Dampak Invasi Rusia ke Ukraina, Harga Komoditas Melonjak

Invasi Rusia ke Ukraina menjadi pemicu terjadinya perang yang memberikan dampak besar terhadap negara-negara di dunia, Indonesia salah satunya. Efek globalisasi menjadi alasan kenapa Indonesia ikut terkena imbas dari perang yang terjadi di Eropa ini.

Perang yang masih belum menunjukkan tanda segera berakhir ini mengakibatkan harga komoditas kunci seperti gandum dan minyak melonjak tinggi. Imbas dari perang ini memberikan kerugian dan beban kepada masyarakat maupun negara.

Lantas, dampak negatif apa saja yang diakibatkan dari invasi Rusia ke Ukraina yang mempengaruhi Indonesia. Berikut, beberapa diantaranya:

1. Harga Impor Komoditas Gandum Semakin Meroket

Harga Impor Komoditas Gandum Semakin Meroket

Ukraina dan Rusia dikenal sebagai salah satu negara pengekspor gandum terbesar di dunia. Harga gandum yang semakin melonjak tinggi. Dikhawatirkan terjadi krisis pangan besar-besaran, tidak hanya di Indonesia bahkan sampai Afrika. 

Gandum adalah bahan baku yang dipakai untuk pembuatan roti, mie, dan produk turunan lainnya. Indonesia termasuk negara pengimpor gandum yang tinggi. Tercatat dalam BPS (Badan Statistik Negara), Ukraina adalah pengimpor gandum terbanyak untuk Indonesia. 

Akibat dari porak porandanya perang karena invasi Rusia ke Ukraina 2022, kontribusi komoditas ini pun terhambat padahal Indonesia bergantung lebih dari 20 persen gandum pada negara pengimpor komoditas kunci ini. Hal ini menjadi alasan melonjaknya berbagai pangan berbahan dasar gandum.

Para penjual atau produsen pangan berbahan gandum akan menaikkan harga jual produknya. Hal ini dinilai akan menjadi beban di masyrakat.

2. Semakin Melonjaknya Harga Minyak

Semakin Melonjaknya Harga Minyak Invasi Rusia ke Ukraina

Perang Ukraina dan Rusia akan berimbas terhadap melonjaknya harga minyak. Hal ini akan mempengaruhi banyak komponen di masyarakat. Jika bahan baku naik, maka nilai jual produsen akan naik. Ongkos pun akan semakin naik, sehingga kenaikan ini menjadi efek berantai.

Invasi Rusia ke Ukraina juga memberikan dampak terhadap APBN atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia, akibatnya harga minyak semakin meroket tajam. Harga minyak diasumsikan sebesar 60 sampai 65 US dollar per barrel. 

Kini harga minyak membengkak yaitu per barelnya bisa mencapai 100 US dollar. Tentunya ini membuat nilai kompensasi dan subsidi BBM yang diberikan pemerintah semakin membesar. APBN negara kita sendiri sudah meliputi subsidi gas LPG, minyak tanah dan BBM (Bahan Bakar Minyak).

Diperkirakan beban APBN Indonesia akibat invasi Rusia ke Ukraina 2022 akan mencapai Rp 2,5 triliun. Tentunya, ini menjadi beban tersulit yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia.

3. Nilai Tukar Mata Uang Rupiah Ikut Menurun

Nilai Tukar Mata Uang Rupiah Ikut Menurun

Dampak lain dari Invasi Rusia ke Ukraina adalah penurunan nilai tukar mata uang rupiah. Perang yang tak kunjung selesai akan semakin melemahkan nilai tukar mata uang rupiah karena mengalami depresiasi terhadap mata uang US dollar.

Dengan melemahnya nilai rupiah, masyarakat banyak yang mulai melakukan investasi untuk menjaga nilai asset mereka. Tak heran jika masyarakat mulai beralih ke investasi emas dan dollar karena tak ada yang bisa memprediksi kapan perang akan berakhir.

Harga emas di tengah meledaknya perang Ukraina dan Rusia justru semakin melonjak karena banyaknya permintaan pembelian aset safe haven ini. Emas banyak dipilih karena selain merupakan investasi berwujud, penjualan di pasar Internasional juga dianggap mudah. 

Tercatat pada bulan Februari lalu, harga emas menyentuh angka 1900 US dollar. Diprediksikan harga emas juga akan mencapai 2000 US dollar, dimana umumnya hanya berada di angka 1.700 US dollar per t oz. 

4. Nilai Saham Dan Pasar Modal Terdampak Menurun

Nilai Saham Dan Pasar Modal Terdampak Menurun Invasi Rusia ke Ukraina

Efek lain dari melemahnya nilai tukar mata uang rupiah adalah penurunan nilai saham dan pasar modal. Dampak ini sebenarnya wajar karena dirasakan juga oleh seluruh dunia, namun penurunan nilai pasar modal dan saham di Indonesia sedikit dan tidak signifikan.

Namun dengan penurunan ini, investor asing masih banyak melakukan buying dibandingkan selling sehingga pasar modal Indonesia masih dinilai stabil. Di sisi lain, Indonesia tetap dihantui rasa takut jika di pasar modal para investor asing mulai melakukan penarikan dollar ke negara asal.

5. Pendapatan Dari Ekspor Juga Merosot

Pendapatan Dari Ekspor Juga Merosot Invasi Rusia ke Ukraina

Tak bisa dipungkiri, akibat dari invasi Rusia ke Ukraina juga mempengaruhi pendapatan ekspor Indonesia. Perang menyebabkan terembargonya perdagangan ke Rusia dan Ukraina, sehingga Indonesia tidak dapat mengekspor ke dua negara tersebut. 

Diperkirakan pendapatan ekspor ke Rusia di bulan Januari lalu menyentuh 170 juta US dollar, sedangkan pendapatan ekspor ke Ukraina di angka 5 juta US dollar. Ekspor tersebut antara lain lemak hewani, karet, kakao dan barang komoditas lainnya.

Bisa dibayangkan berapa banyak pendapatan negara Indonesia yang hilang dari ekspor, akibat dari ketidakpastian kapan perang Rusia dan Ukraina berakhir.

Dampak yang diakibatkan dari invasi Rusia ke Ukraina menjadi momok menakutkan bagi berbagai negara di dunia. Tidak hanya di Eropa Timur, namun juga negara di Asia dan Afrika. Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang terkena dampaknya.

Akibat dari perang, Indonesia mengalami penurunan pendapatan bahkan kerugian karena melonjaknya harga.