Hujan Kritik HBS, dari Ceramah Hingga tidak Patuhi Prokes

Beberapa waktu lalu bandara sempat heboh dan penuh dengan banyak orang, ini disebabkan karena Imam Besar FPI (Front Pembela Islam) pulang dari Arab Saudi menuju ke Indonesia. Hal ini membuat banyak pengikutnya berbondong – bondong ke bandara untuk menjemput HBS. Terlihat dari video pendek banyak yang berpakaian putih di area bandara.

Bahkan hal ini amat merepotkan banyak warga yang hendak menuju ke bandara karena macet total. Personil polisi juga dikerahkan ke lokasi agar mengurai kemacetan namun mobil tidak bergerak sama sekali. Hal ini menuai banyak protes dari masyarakat karena telah menghalangi kepentingan umum demi satu orang saja.

Banyak juga yang mengabaikan protokol kesehatan karena masa yang datang ke bandara tidak berjarak. Setibanya HBS di Indonesia semua masa meneriakkan keagungan Allah. Berjalan hingga Habib menuju ke mobilnya dan meninggalkan bandara. Lalu siapa sebenarnya Habib Rizieq Shihab ini? Mengapa banyak orang membuatnya seperti raja?

Dalam beberapa tahun lalu masih beliau memimpin demo 212 yang mengkritik pemerintah Indonesia. Dan hal itu diikuti oleh banyak santri bahkan orang – orang yang turut ikut mengambil keuntungan dari demo tersebut. HBS mewakili umat Islam untuk protes tentang kebijakan yang sedang terjadi pada waktu itu.

Tak selang beberapa waktu HBS sempat menjadi buronan karena pornografi yang mirip dirinya. Dari tahun 2018 dirinya melarikan diri ke Saudi Arabia dan kembali lagi ke Indonesia karena suatu hal. Hal ini menjadi pro dan kontra bagi banyak masyarakat Indonesia yang memang mengkritisi sikap dari Habib Rizieq Shihab tersebut.

Tujuan HBS Datang ke Indonesia

Ada beberapa versi yang mengatakan bahwa HBS memiliki tujuan khusus untuk pulang ke Indonesia. Banyak yang menyangka akan diadakannya reuni 212 dengan tajuk yang berbeda, hal negatif ini telah banyak diprediksi oleh masyarakat. Sempat trending di media sosial pada hari itu 10 November 2020 saat kedatangannya di Indonesia.

Namun nyatanya beliau akan menghadiri acara pernikahan putrinya yang bernama Syarifah Najwa Shihab. Dirinya menjadi wali nikah putri keempatnya yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Jakarta Selatan, hal ini dibuktikan dengan berita memang benar adanya pernikahan putrinya dengan lelaki pilihannya.

Selain itu agenda lain juga akan dilakukan HBS seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di rumah guru tercinta yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Tebet Jakarta Selatan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh banyak massa yang lagi – lagi membuat kepentingan umum terganggu seperti kemacetan dan juga sikap tidak disiplin karena melanggar prokes.

Acara ini juga dihadiri oleh beberapa polisi dengan pangkat tinggi dengan anak buahnya yang bertugas untuk mengamankan acara tersebut, ternyata tidak hanya saat acara Maulid Nabi saja namun juga pada acara pernikahan banyak tamu undangan yang tidak memenuhi protokol kesehatan. Hal ini memicu adanya pemanggilang HBS ke kepolisian.

Pengacara FPI yakni Yanuar mengatakan bahwa sudah mendengar namun surat panggilan belum datang. tidak hanya itu penyidik juga melibatkan RT, RW, Lurah, Camat, Linmas, Wali Kota Jakarta Pusat dan juga KUA untuk klarifikasi masalah tersebut. Mereka dimintai klarifikasi yang melanggar pasal 93 UU tentang karantina kesehatan.

Kontroversi Ceramah Saat Maulid Nabi Muhammad SAW

Rabithah Alawiyah menilai perkataan HBS saat acara Maulid Nabi tersebut tidak elok didengar. Ucapan Habib yang menyinggung masalah lonte ini menimbulkan banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Ia mempermasalahkan polisi melindungi Nikita Mirzani, pendapatnya seharusnya Nikita ditanggap bukan malah dilindungi.

Begini tutur Habib saat ceramah, Habib menyatakan tidak marah jika pengikutnya mau kepung rumah Nikita namun ia marah karena polisi melindungi Nikita, kacau katanya. “Lonte hina habib tapi dijaga polisi? Kacau tidak? Mestinya lonte yang hina habib, ulama tangkep bukan malah dijagain”, lanjutan ceramah Habib.

HBS juga berprasangka buruk pada polisi bahwa polisi menjaga rumah Nikita Mirzani karena ingin dapat jatah. Terdengar riuh masyarakat yang hadir tampak bersorak riuh, perkataan HBS tersebut memang tidak layak untuk dikeluarkan sebagai seorang Imam besar FPI yang berlatar belakang ke Islaman dan telah terkenal menjadi cucunya Nabi Muhammad.

Kritik turun dari mana – mana, termasuk dari wadah habis se-Indonesia. Rabithah mengatakan bahwa “ memang tidak elok disampaikan apapun background dan konteksnya, apalagi memiliki pengikut banyak, ya tentu saa memiliki tanggung jawab besar. Seorang tokoh agama seharusnya menjadi panutan dalam bersikap dan bertutur kata.

Tidak hanya itu masih banyak kritikan dari tokoh agama lainnya seperti Zainut Tauhid menyayangkan ucapan tersebut terlontar dari Habib yang memiliki banyak pendukung, seharusnya meniru sikap Nabi Muhammad yang menghormati dan memaafkan seseorang walaupun orang tersebut telah melakukan fitnah, aniaya dan lain sebagainya.

Sikap Pemerintah DKI Jakarta Atas Pelanggaran Prokes

Dari banyak kontroversi yang muncul kini sikap pemerintah DKI Jakarta dipertanyakan, karena acara tersebut digelar di Jakarta. Dari wawancara Anies Baswedan mengatakan bahwa pemerintah telah proaktif menyikapi acara tersebut. Hal ini dapat dilihat ketika massa telah berkumpul sejak 10 November lalu di bandara.

Kemudian saat akan diadakannya acara Maulid Nabi Muhammad SAW, wali kota Jakarta Pusat Bayu Megantara mengirimkan surat peringatan bahwa harus mengikuti protokol kesehatan pada Habib. Massa yang memadati acara tersebut terlihat tidak mengenakan masker sehingga secara aturan telah melanggar aturan yang ada.

Anies berkata bahwa pemerintah setempat sudah bertindak sesuai dengan aturan yang ada, maka secara proaktif telah mengingatkan tentang prokes yang harus ditaati. Apabila ada pelanggaran maka hal ini akan kami tindak 1 x 24 jam. Pemberian denda sebesar 50 juta juga sudah memenuhi aturan yang ada.

Pernyataan Anies selaku Gubernur DKI Jakarta tersebut juga memancing protes rakyat terhadap perlakuannya kepada HBS. Mahfud juga telah mengingatkan akan terjadinya kerumunan massa pada saat acara tersebut dilakukan. Hal ini dibenarkan dan ditanggapi oleh wakil gubernur DKI Jakarta ungkapnya telah lebih dahulu memperingatkan tentang hal tersebut.

Masyarakat juga mempertanyakan tindakan pihak keamanan saat kerumunan massa terjadi. Hal ini berbada dengan perlakuan aparat kepada demo mahasiswa beberapa minggu yang lalu. Aparat dianggap pilih kasih dan takut pada tokoh yang berpengaruh. Karena hal tersebut 2 kapolda dicopot dari jabatannya sebab tidak mengemban amanah dengan baik.

Alasan Satpol PP tidak Berani Bubarkan Massa

Tak hanya polisi saja yang mendapat sorotan karena tidak tegas dalam bertindak dan terkesan pilih kasih. Satpol PP juga tidak luput dari kritikan masyarakat yang menyayangkan tidak adanya tindakan tegas, berbeda jika satpol PP bertindak ketika mengusir pedagang kaki lima secara represif. Namun pihaknya masih melakukan tindakan pada 37 orang.

Kata Sahat di Gedung DPRD DKI Jakarta ia memberikan perbandingan antara banyaknya orang dibanding dengan satpol PP yang bertugas. Hanya 37 orang saja yang ditindak karena tidak memakai masker, selain itu anggotanya juga membubarkan fans Nikita Mirzani yang berada di bundaran HI agar tidak terjadi hal – hal tidak diinginkan.

Satpol PP menyatakan bahwa Habib telah dikenakan denda administratif karena tidak mematuhi protokol kesehatan Covid – 19. Respon HBS baik saat pihak berwajib mendatangi rumahnya untuk melakukan tindak yang dilakukan karena melanggar aturan prokes. Dan Habib merespon baik mengenai denda administratif tersebut.

Pihak satpol PP berpendapat bahwa anggotanya telah melakukan tugas sesuai dengan amanah yang diembannya. Yaitu dengan menjaga kerumunan massa dan juga menindak beberapa pengikut Habib yang tidak mengenakan masker dan bergerombol. Namun tetap saja masyarakat tidak simpati dengan aksinya walaupun telah ditindak sedemikian rupa.

Kritikan masyarakat masih terus berlanjut hingga kini mengenai ulah HBS dari kedatangannya hingga ceramahnya di acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa simpati dan empati masyarakat menurun walaupun Habib berstatus sebagai ulama besar. Kasus ini masih diselidiki pihak berwajib.