Keberadaan Menkes Terawan Dipertanyakan Setelah Kasus Covid-19 Indonesia Meningkat

Pada awal kemunculan virus baru yaitu covid-19 di Tanah Air salah satu menteri menjadi sorotan publik atas kebijakannya yang kontroversial membuat masyarakat kini saling ketakutan setelah corona menyebar ke seluruh daerah. Bagi kita, ini merupakan ancaman baru yang harus segera diatasi supaya tidak timbul virus lainnya.


Anehnya sejak adanya tersebut membuat seluruh lapisan di masyarakat Indonesia semakin terombang-ambing. Bahkan beberapa perusahaan besar melakukan PHK terhadap sebagian dari pekerjanya yang masih aktif, tentunya ini sangat mengkhawatirkan apabila pandemi tidak segera diatasi dengan bijak dan tegas bisa-bisa perekonomian negeri kita hancur secara otomatis.


Salah satu dokter terkenal sekaligus sebagai pengusaha juga membuat pernyataan keras yang menyindir kinerja dari kementerian kesehatan saat ini dianggap kurang maksimal. Ada beberapa bukti penting menunjukkan ketidak sigapan pemerintah menghadapi virus ini, mengakibatkan peningkatan pasien terus terjadi bahkan per 1 Oktober tembus 290 ribu.

Bagi Indonesia hal tersebut memang dikatakan cukup besar, Tanah Air dinilai kurang sigap dalam pencegahan virus covid-19 sebelum masuk ke negara. Padahal pandemi sudah berjalan hingga kurang lebih 7 bulan, presiden Joko Widodo sendiri menuturkan harus diatasi secara bersama-sama supaya cepat melalui pandemi.


Mulai dari pemerintah pusat kemudian menyasar ke sektor pemerintahan provinsi hingga ke daerah harus saling bekerjasama untuk menggencarkan agar masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan. Alasan menkes dinilai menghilang dari keberadaannya sebagaimana seharusnya mengawal covid-19, kami sudah meringkasnya di bawah pastikan ikuti pembahasan ini sampai habis.


Menolak Saat Ingin Ditemui Najwa Shihab di Acaranya


Pada saat pertemuan pertama di awal kemunculan corona, menkes RI menerima undangan dari Matanajwa serta mendatangi untuk diwawancara seputar perkembangan virus tersebut. Namun seiring waktu berjalan dan peningkatan wabah covid-19 melesat tinggi mungkin mempengaruhi keputusannya apakah menyetujui undangan atau tidak di acara sama seperti sebelumnya.


Nana, sebutan akrab dari Najwa sendiri juga membuat video tentang beberapa pertanyaan yang seolah-olah sedang melakukan tanya jawab bersama Menteri Kesehatan. Belum diketahui apakah alasan utama melandasi ketidakhadiran dari beliau, pasti tak lain karena pandemi saat ini belum juga berakhir membuatnya malu untuk menghadiri acara.


Jika pun hadir, tentunya pak Terawan sudah bisa menyaksikan video yang telah dibuat oleh tim Narasi dari Najwa khusus untuk beliau. Apakah mungkin takut diberi pertanyaan aneh-aneh seputar virus covid-19? Kita sama-sama tidak tahu dan mengharapkan Menkes hadir di tengah-tengah masyarakat agar merasa tenang.


Ternyata bukan hanya itu saja yang membuat nama Menteri Kesehatan disorot oleh khalayak luas, pernyataannya di awal muncul corona juga menimbulkan perdebatan. Dikarenakan beliau malah bersyukur saat negara Indonesia tidak ada kasus sama sekali akibat dari dampak virus ini, sedangkan negara lain sudah menemukan kasus.


Pernyataan itu dikemukakan langsung pada awal bulan Februari tepatnya pada tanggal 11, alhasil masyarakat cenderung tenang dalam menghadapinya. Harusnya dengan belum muncul kasus terdeteksi pasien positif, bukan bersyukur melainkan was-was serta melakukan upaya lebih lanjut. Dan benar saja, awal Maret 2020 kasus pertama diumumkan Presiden.


Kurang Cepat Tanggap dalam Pencegahan


Pemerintah dinilai kurang tanggap terhadap penyebaran virus dimana negeri kita sudah terlanjur terdampak tanpa terdeteksi sama sekali. Bahkan beberapa hari sebelum virus menyebar dalam angka cukup tinggi, Tanah Air membuka seluruh akses wisata dengan melakukan diskon besar-besaran, setelah itu baru berdampak pada munculnya pasien corona.


Jika melihat perbincangan antara dr. Tirta dengan Deddy Corbuzier di podcast youtube milik Deddy, Tirta dengan tegas menjelaskan bahwa Menteri Kesehatan kurang cepat tanggap. Kinerjanya cukup menimbulkan pertanyaan besar selama ini, bagaimana tidak saat ini tentang adanya vaksin dipegang oleh Luhut dimana harusnya Menkes.


Dokter dan perawat yang menjadi garda terdepan di dalam penanganan virus covid-19 sudah ada beberapa berjatuhan gugur. Bisa dianggap ini menjadi masalah besar, apalagi ketika muncul kebijakan baru soal masker SNI dibuat oleh pemerintah. Tirta selaku dokter sekaligus influencer telah survei lapangan bahwa keadaannya mengenaskan.


Ia berkata kepada Deddy melalui podcastnya saat ini keadaan di lapangan sudah berantakan, alhasil masyarakt cenderung menyepelekan tentang protokol kesehatan. Sebagai satgas covid-19, dr. Tirta saat memberikan imbauan kepada salah satu ojol atau disebut juga ojek online malah dibentak dengan alasan cukup masuk akal.


Alasan dari ojol tersebut tidak mematuhi protokol kesehatan yaitu masker berkualitas SNI yaitu sudah tak tau lagi bagaimana mendapatkan uang demi mencukupi kebutuhan. Ojol itu bilang, “Makan aja susah Mas, apalagi beli masker yang harus SNI jika dihitung per minggu sangat mahal.” Menyedihkan sekali keadaannya.


Apakah Karena Salah Statement Jadi Memilih Bungkam Suara?


Selanjutnya, banyak lagi kesalahan yang telah dilakukan oleh Menkes Terawan berikutnya adalah membuat statement atau pernyataan tentang corona yang dapat sembuh sendiri. Kenyataannya untuk dapat menyembuhkan negara kita membutuhkan impor alat tes seperti halnya rapid test kit covid-19 dari tetangga demi mendeteksi pasien terjangkit.


Namun salah lagi, di akhir September ini ada pembahasan menarik bahwa keberadaan dari alat tes rapid ternyata tidak berfungsi penuh jika dijadikan landasan pasien positif. Perlu diketahui, pada awalnya rapid test di Indonesia cukup mahal harganya di atas dua ratus ribu, perbedaan mencolok dilihat sekarang.


Harganya turun drastis bahkan ada banyak alat rapid yang di bawah seratus ribu, padahal isinya sama saja. Hal ini menjadi kekecewaan khususnya di lapisan masyarakat luas dari kalangan bawah hingga petinggi. Bagaimana tidak, seluruh pengecekan sekarang standarnya menggunakan rapid, dan hasilnya tak 100% benar.


Sebagai alat untuk melacak serta mengenali keadaan seseorang setelah beraktivitas bersama orang terdampak covid-19 memang tak masalah. Namun sebisa mungkin sehabis dikenakan hal itu seharusnya langsung melakukan swab test, karena saat ini paling akurat hasilnya bisa dilihat dari swab, jangan sampai peningkatan pasien terus berlangsung.


Kurang Berani Mengambil Keputusan Penting Demi Masyarakat


Belum usai, berbagai macam jenis kritikan terhadap menteri kesehatan memang sangat layak apabila melihat dari cara kinerjanya saat pandemi sedang berlangsung. Bahkan Indonesia sendiri menjadi negara yang masih terus melonjak arus peningkatannya tanpa disertai penurunan kasus. Hampir 3000 orang setiap hari ditemukan kasus positif baru.


Apabila dilihat dari situasi yang semakin tidak memungkinkan untuk kembali ke situasi normal seperti pada semula. Namun mau tak mau, sebaiknya masyarakat juga mematuhi protokol kesehatan sesuai imbauan dari Presiden Jokowi maupun pemerintah daerah. Sorotan terakhir bagi Terawan adalah kurang tegas mengambil keputusan demi rakyat.


Sebagaimana berita yang telah beredar belakangan ini bahwa alat rapid test kurang akurat jika digunakan untuk mendeteksi pasien terjangkit corona, swab test harusnya diperbanyak. Walaupun harganya cukup mahal dibandingkan rapid, jika dilihat dari hasil akhir serta keakuratan lebih baik memperjuangkan swab test untuk mengurangi peningkatan.


Memang ini menjadi dampak besar bagi negara, khususnya di sektor perekonomian yang perlahan mulai hancur. Bukan itu saja, kehidupan masyarakat dikhawatirkan mengalami perubahan karena untuk mendapatkan pekerjaan layak sudah susah. Kita patut menunggu langkah tegas dari Terawan supaya Indonesia mampu keluar dari pandemi covid-19 secepatnya.